Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

23 November 2017

Review Film : Merah Putih Memanggil

Baca Juga




Detail Film:
1. Jenis : Drama, Action, 
2. Sutradara : Mirwan Suwarso
3. Rumah Produksi : TB Silalahi Pictures
4. Penulis Naskah : TB Silalahi
5. Produser : Josie S. Karjadi
6. Tanggal Rilis : 5 Oktober 2017 (Indonesia)
7. Durasi     : 2:02:48


Pemain:
1. Mentari De Marelle
2. Verdy Bhawanta
3. Aryo Wahab
4. Restu Sinaga
5. Prisia Nasution
6. Maruli Tampubolon

Sinopsis:

Cerita film ini dimulai dengan adanya pembajakan kapal pesiar ukuran sedang berbendera Indonesia, Merah Putih, di wilayah perairan Indonesia oleh teroris internasional. Satu orang awak kapal ditembak mati di kapal karena melakukan pembangkangan. Empat orang awak kapal termasuk kapten beserta tiga orang warga negara Perancis, satu orang warga negara Kanada, dan satu orang warga negara Korea Selatan diculik dan dibawa ke suatu daerah di bagian selatan negara tetangga.

Pimpinan penculik meminta tebusan dari negara-negara yang warga negaranya diculik dan sudah barang tentu termasuk Indonesia. TNI tidak bisa berbuat apa-apa karena teroris itu berada di negara lain. Negara tetangga tersebut juga sedang kewalahan menghadapi para teroris ini karena Pemerintahnya sendiri mengalami banyak masalah dalam negeri. Namun, karena pendekatan dari Pemerintah Indonesia, negara tetangga tersebut memberi izin dan kesempatan kepada TNI untuk masuk ke daerahnya guna membebaskan sandera yang dibatasi dalam waktu 2x24 jam.

TNI membuat rencana Operasi Gabungan yang melibatkan semua Angkatan. TNI AD melakukan operasi tertutup/pendadakan dengan mengirimkan satu tim dari Batalyon Anti Teror Kopassus yang diterjunkan malam hari secara free fall. Dalam keadaan siap siaga akan dibantu pesawat tempur dari TNI AU, serta kapal-kapal perang TNI AL di pantai, dan juga operasi Kopaska atau Pasukan Katak dan Batalyon Marinir untuk didaratkan. Dengan beberapa strategi, akhirnya mereka berhasil menghadapi musuh dan menyelamatkan sandera.

Review:

Awal film memang sudah menegangkan, mulai dari latar suara, pemilihan tokoh, dan adegan. Tapi, inilah yang membuat penonton merasa betah dan merasakan ketegangan. Baru scene pertama saja, Penonton sudah disuguhkan dengan adanya teroris yang menyandera penumpang kapal berbendera Indonesia, menembak mati seorang tawanan yang disandera. 

Setelah menonton film ini, penonton akan mengerti bagaimana perjuangan seorang tentara di medan perang. Pasalnya, film ini benar-benar kental dengan unsur tentara, seperti push-up dengan tiga jari, bersembunyi di dalam hutan dan di dalam air, memakan makanan kemasan kaleng, menangkap ular dengan tangan kosong dan menyantapnya mentah-mentah. Menuang bubuk morfin pada luka, telunjuk yang terserempet peluru musuh hingga patah lalu menarik patahan telunjuk itu dengan giginya. Ada pula adegan menjahit lengan yang terkena peluru tanpa diberi anestesi (obat bius).

Selain itu, ada TNI yang tertangkap musuh. Kemudian pahanya ditusuk lawan agar mau berbicara dan perjuangan TNI itu berakhir dengan dibakar hidup-hidup. Sandera yang dieksekusi teroris diangkut, kaki dan tangan diikat pada sebuah bambu yang dipanggul di atas bahu dua orang –depan dan belakang-, lalu mayat itu dilempar begitu saja di atas tumpukan belasan sandera yang telah mereka eksekusi. 

Yang terbaik dalam film ini adalah ending ceritanya yang sangat mengharukan. Misi telah berakhir, saatnya mereka kembali ke Tanah Air. Baru saja pesawat AU (Angkatan Udara) yang mereka naiki terbang, salah seorang TNI menghembuskan napas terakhirnya di situ dengan mata yang terbuka. Kemudian penutup film ini ialah prosesi pemakaman secara militer di TMP (Taman Makam Pahlawan) Kalibata, Jakarta Selatan.


Nilai : 8 dari 10 

Kaspriliani 
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta 

Sumber gambar : https://cdn.inatimes.co.id

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman