Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

03 July 2024

MENILIK POTENSI ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) BAGI PENDIDIKAN DI INDONESIA: HARUSKAH PENDIDIKAN AI DIADAKAN?

Baca Juga

Gambar dibuat oleh: Copilot by Microsoft

Artificial intelligence, begitulah kita mengenalnya, merupakan sebuah kecerdasan buatan yang memiliki tata berpikir layaknya manusia dalam sebuah mesin, artificial intelligence berkembang sangat cepat pada era ini sehingga membuat dunia harus melihat keberadaannya. Ide mengenai AI lahir pertama kali pada tahun 1935 oleh Alan Turing (Copeland, 2024). Ide tersebut ternyata menjadi sebuah titik balik kemajuan teknologi dan industri yang bisa kita rasakan pada saat ini, termasuk sektor pendidikan. Bahkan sampai sekarang banyak negara rela berinvestasi yang sangat besar untuk pengembangan AI.

Masuknya teknologi ke dalam ranah dunia pendidikan di dunia telah terintegrasi cukup lama,dimulai pada tahun 1950-an (Tsani, 2024). Di Indonesia sendiri, artificial intelligence mulai diriset dan diteliti pada tahun 1980-an. Pada saat itu fokus penelitiannya terdapat pada machine learning, image processing, dan natural language processing. Hingga puncaknya pada tahun 2023, artificial intelligence menjadi begitu populer di kalangan para pelajar sehingga menjadi sebuah tren yang cukup booming.

Menurut data dari Databoks tahun 2023 dalam tren global pengggunaan aplikasi artifical intelligence, Indonesia menjadi salah satu pemain kunci sebagai pengguna terbanyak dengan menduduki peringkat ketiga secara global, dengan 1,4 miliar kunjungan ke aplikasi AI pada tahun 2023. Ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dan menyumbang 5,60% dari total lalu lintas AI. Lalu kemudian ada Amerika Serikat yang berada dipuncaknya yaitu berada diposisi pertama dengan total kunjungan sebanyak 5,5 miliar kunjungan (22,62%), dan diikuti oleh India yang berada di posisi kedua dengan total 2,1 miliar kunjungan (8,52%) (Muhamad, 2024). Dalam konteks tersebut, ChatGPT muncul sebagai aplikasi AI yang paling banyak digunakan dengan total dengan 14,6 miliar kunjungan, hal ini menandakan tren yang kuat dalam preferensi pengguna. Aplikasi lain seperti Character.AI dan Quillbot juga mengikuti tren ini dengan jumlah kunjungan yang mengesankan.

Namun ironisnya di Indonesia, dengan segala kemajuan teknologi tersebut serta menjadi pemegang posisi ketiga tren penggunaan AI. Dalam sebuah survei studi penelitian Global Education Monitor-Indonesia yang dilakukan oleh Marcomm Ipsos pada tahun 2024 tentang pendidikan di Indonesia mengungkapkan bahwa 40% sekolah berjuang dengan hambatan teknologi, 37% dibatasi oleh infrastruktur yang tidak memadai, dan 18% terbelenggu oleh kurikulum yang usang (Marcomm Ipsos, 2024). Hal ini menunjukan bahwasanya di dalam sektor pendidikan Indonesia kesetaraan para pelajar di sekolah untuk bisa menggunakan teknologi masih banyak yang terhambat sehingga mereka harus lebih keras berjuang untuk dapat keluar dari hambatan tersebut akibat fasilitas infrastruktur yang tidak memadai dan kurikulum pendidikan usang yang tidak sesuai dengan perubahan yang terjadi pada era revousi ini.

Di atas itu semua, berita baiknya bahwasanya pada tahun 2024 warga negara Indonesia memperlihatkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dibanding dengan Australia yang hanya 57%. Lebih dari setengah warga Indonesia (56%) merasa pendidikan saat ini lebih baik daripada masa sekolah mereka, sementara 25% tidak setuju. Keyakinan ini lebih kuat di kalangan Milenial dan Gen Z, berbeda dengan Baby Boomer dan Gen X. Selain itu, 67% warga Indonesia percaya bahwa pendidikan berperan penting dalam mengurangi kesenjangan sosial (Marcomm Ipsos, 2024). Melihat hal ini dimana tingkat kepuasan pendidikan lebih tinggi dibandingkan negara Australia membuat Indonesia memiliki kesempatan tinggi dalam memperoleh kemajuan dalam sektor pendidikan dengan menghubungkan teknologi artificial intelligence dan pendidikan untuk para murid. Sebab pada tahun ini pendidikan mengalami transformasi dengan cepat sebagai dampak kemajuan teknologi artificial intelligence.

Kemajuan AI kini telah mengubah wajah pendidikan menjadi sebuah bagian baru yang harus kita manfaatkan. Dengan pembelajaran mesin di jantungnya, memungkinkan sistem untuk belajar dari data dan mengenali pola. Model bahasa seperti LlaMa dan StableLM telah membawa revolusi dalam aksesibilitas dan keandalan, sementara platform pembelajaran adaptif menawarkan pengalaman yang disesuaikan untuk setiap pelajar. Tahun ini telah menjadi sebuah titik krusial dalam integrasi AI ke dalam kehidupan sehari-hari, dengan munculnya tren seperti AI multimodal, model bahasa yang lebih efisien, dan agen virtual yang lebih canggih yang mendefinisikan masa depan. Teknologi pengenalan suara dan analisis data besar telah meningkatkan interaksi dan efektivitas pengajaran, sementara chatbot dan asisten virtual mendukung pembelajaran dan penilaian otomatis. Meskipun ada tantangan seperti kekurangan GPU dan biaya infrastruktur cloud, pasar AI percakapan menurut analisis statistik yang dilakukan oleh Appinventiv diperkirakan akan mencapai $1,25 miliar pada 2025, didorong oleh inovasi seperti AI multimodal dan generatif (Srivastava, 2024). AI tidak hanya memperkaya interaksi manusia-mesin tetapi juga menetapkan arah baru untuk inovasi dan kreativitas, mengubah cara kita membuat konten dan membuka jalan bagi metode pengajaran yang lebih efisien dan pengalaman belajar yang diperkaya atas bantuan AI.

Di beberapa negara diseluruh bagian dunia, kemajuan AI membuat banyak negara mempersiapkan pendidikan mereka dan melalukan berbagai macam proses pemeriksaan dan perbaikan pada sebuah program pendidikan mereka untuk menciptakan sebuah era baru dalam sektor pendidikan. Misalnya, di Korea Selatan, Kementerian Pendidikan mereka berinisiatif untuk menghadirkan buku teks digital yang ditenagai oleh AI berjanji untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih personal dan bertujuan untuk meratakan peluang pendidikan. Di Uni Emirat Arab, mereka berinvestasi besar pada proyek-proyek AI yang bertujuan untuk menyesuaikan materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan setiap pelajar diharapkan bisa meningkatkan hasil belajar dan kemampuan analitis. UNICEF, berkomitmen untuk mengembangkan konten pendidikan yang inklusif dan mudah diakses bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus, memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak. Di Afrika Barat, Kabakoo Academies telah berhasil memanfaatkan potensi AI untuk menyediakan bimbingan virtual dan pembelajaran yang berorientasi pada pengalaman praktis, yang telah terbukti meningkatkan kemampuan dan pendapatan pemuda. Sementara itu, di Brasil, program Letrus telah mengadopsi AI untuk meningkatkan literasi, dengan menekankan pada pendekatan pembelajaran yang dipersonalisasi dan tanggapan seketika, menargetkan peningkatan kemampuan membaca dan menulis di kalangan pelajar sekolah menengah (Willige, 2024). Dengan semua tindakan yang mereka lakukan, tindakan mereka mengarah pada satu hal yaitu memanfaatkan penuh potensi yang bisa dihasilkan oleh artificial intelligence (AI).

Melihat progres program pendidikan negara-negara diatas, menjadikan artificial intelligence (AI) sangat potensial untuk pendidikan di Indonesia sebab memiliki banyak sekali manfaat positif untuk sektor pendidikan Indonesia, AI menawarkan dukungan yang dipersonalisasi untuk guru, termasuk simulasi para pelajar untuk latihan soal, umpan balik real-time, dan analisis pasca-pembelajaran yang semuanya dirancang untuk meningkatkan praktik pengajaran (Chen, 2023). Dengan mengubah pendekatan pembelajaran, AI memungkinkan para pelajar untuk mengalihkan fokus mereka pada pengembangan keterampilan tingkat tinggi, sehingga pada akhirnya semua hal itu dapat meningkatkan standar pembelajaran di Indonesia. AI juga memiliki potensi untuk mendukung lingkungan pembelajaran yang bebas dari ketakutan akan dihakimi, memberikan umpan balik konstruktif yang memungkinkan para pelajar untuk bereksperimen dengan keterampilan lunak tanpa rasa takut akan penilaian dan membangun pemikiran kritis para pelajar. Selain itu, AI memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan penilaian dengan memfasilitasi diskusi kelas yang lebih interaktif dan menyediakan personalisasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu setiap pelajar, dan menjadi pembuka jalan bagi pendidikan yang lebih responsif dan inklusif.

Disisi lainnya, meskipun AI memiliki potensi luar biasa dalam sektor pendidikan, hal tesebut juga tak terlepas dari rasa cemas ancaman bahaya AI yang kian menghantui. Salah satunya berdampak pada krisis motivasi dalam belajar dikalangan pelajar, dimana yang diungkapkan oleh seorang pelajar yang khawatir akan dampak ChatGPT terhadap prospek pekerjaannya, menandakan krisis motivasi eksistensial yang lebih luas di mana siswa merasa tidak yakin tentang nilai keterampilan yang telah mereka pelajari (Chen, 2023). Kemudian meskipun AI mampu memproses informasi dengan kecepatan dan akurasi yang tinggi, AI memiliki keterbatasan dalam pemahaman, tidak mampu menggantikan aspek sosial dan emosional yang penting dalam pendidikan, seperti interaksi manusia, empati, dan kreativitas. Selain itu, ada risiko terhadap integritas akademis, di mana AI dapat digunakan untuk menghasilkan karya atau jawaban yang tidak asli, membuka peluang untuk penipuan akademis dan plagiarisme, yang dapat merusak fondasi pendidikan yang adil dan bermakna.

Merespon adanya sebuah perubahan tersebut, Indonesia haruslah gencar berbicara dan memulai pendidikan AI di seluruh tingkat pendidikan baik SMP, SMA, serta khususnya ditingkat Sekolah Tinggi. Kemudian dalam merancang pendidikan yang didukung oleh AI, Negara kita penting untuk memperhatikan serta memprioritaskan kesetaraan antar pelajar, memastikan bahwa tidak ada pelajar yang tertinggal karena kesenjangan gender, status sekolah, atau hambatan bahasa dan wilayah pedesaan. AI harus menjadi alat yang mendukung pengetahuan pendidikan manusia, dan bukan menggantikannya ataupun tertelan olehnya, dengan menyediakan fasilitas-fasilitas alat bantu yang mendukung untuk mengotomatiskan tugas administratif dan memperkaya pengajaran. Dengan demikian, mengajarkan pelajar tentang AI menjadi sama pentingnya dengan menggunakan AI dalam pembelajaran, karena ini membekali para pelajar dengan keterampilan yang relevan untuk masa depan dan pemahaman tentang dampak etika dan sosial dari AI. Sehingga pada akhirnya, Indonesia dapat memastikan segala akses yang adil terhadap peluang pembelajaran AI. Karena hal tersebut merupakan kunci untuk mencegah keterbelakangan teknologi yang terjadi di Indonesia dan memajukan bangsa kita lewat pelajar yang berkualitas emas dan memiliki keterampilan yang tinggi.

 

REFERENSI

Chen, C. (2023). AI Will Transform Teaching and Learning. Let’s Get it Right. Hai.Stanford.Edu. https://hai.stanford.edu/news/ai-will-transform-teaching-and-learning-lets-get-it-right#:~:text=First%2C a look at AI’s potential%3A 1 1.,... 4 4. Improving learning and assessment quality

Copeland, B. J. (2024). history of artificial intelligence (AI). Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/science/history-of-artificial-intelligence

Marcomm Ipsos. (2024). Global Education Monitor - Indonesia. Ipsos.Com. https://www.ipsos.com/en-id/global-education-monitor-indonesia-2023

Muhamad, N. (2024). Indonesia, Penyumbang Kunjungan Aplikasi AI Terbanyak ke-3 di Dunia. Databoks . https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/31/indonesia-penyumbang-kunjungan-aplikasi-ai-terbanyak-ke-3-di-dunia

Srivastava, S. (2024). Top AI Trends in 2024: Transforming Businesses Across Industries. Appinventiv. https://appinventiv.com/blog/ai-trends/

Tsani, M. K. (2024). Bagaimana AI Mengubah Cara Kita Belajar dan Mengajar. Kompasiana.Org. https://www.kompasiana.com/mizankh/6666bf7fed6415691a05ab42/bagaimana-ai-mengubah-cara-kita-belajar-dan-mengajar

Willige, A. (2024). From virtual tutors to accessible textbooks: 5 ways AI is transforming education. Weforum.Org. https://www.weforum.org/agenda/2024/05/ways-ai-can-benefit-education/

 


Penulis:

Muhammad Fadhil Badawi, 2O2214500072 - R4A

Universitas Indraprasta PGRI




Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman