Baca Juga
Artificial
intelligence, begitulah kita mengenalnya, merupakan sebuah
kecerdasan buatan yang memiliki tata berpikir layaknya manusia dalam sebuah
mesin, artificial intelligence berkembang sangat cepat pada era ini
sehingga membuat dunia harus melihat keberadaannya. Ide mengenai AI lahir pertama
kali pada tahun 1935 oleh Alan Turing (Copeland,
2024).
Ide tersebut ternyata menjadi sebuah titik balik kemajuan teknologi dan
industri yang bisa kita rasakan pada saat ini, termasuk sektor pendidikan.
Bahkan sampai sekarang banyak negara rela berinvestasi yang sangat besar untuk
pengembangan AI.
Masuknya
teknologi ke dalam ranah dunia pendidikan di dunia telah terintegrasi cukup
lama,dimulai pada tahun 1950-an (Tsani,
2024).
Di Indonesia sendiri, artificial intelligence mulai diriset dan diteliti
pada tahun 1980-an. Pada saat itu fokus penelitiannya terdapat pada machine learning, image processing, dan natural language processing. Hingga puncaknya
pada tahun 2023, artificial intelligence menjadi begitu populer di
kalangan para pelajar sehingga menjadi sebuah tren yang cukup booming.
Menurut
data dari Databoks tahun 2023 dalam tren global pengggunaan aplikasi artifical
intelligence, Indonesia menjadi salah satu pemain kunci sebagai pengguna
terbanyak dengan menduduki peringkat ketiga secara global, dengan 1,4 miliar
kunjungan ke aplikasi AI pada tahun 2023. Ini menunjukkan peningkatan yang signifikan
dan menyumbang 5,60% dari total lalu lintas AI. Lalu kemudian ada Amerika Serikat
yang berada dipuncaknya yaitu berada diposisi pertama dengan total kunjungan
sebanyak 5,5 miliar kunjungan (22,62%), dan diikuti oleh India yang berada di posisi
kedua dengan total 2,1 miliar kunjungan (8,52%) (Muhamad,
2024).
Dalam konteks tersebut, ChatGPT muncul sebagai aplikasi AI yang paling banyak
digunakan dengan total dengan 14,6 miliar kunjungan, hal ini menandakan tren
yang kuat dalam preferensi pengguna. Aplikasi lain seperti Character.AI dan
Quillbot juga mengikuti tren ini dengan jumlah kunjungan yang mengesankan.
Namun
ironisnya di Indonesia, dengan segala kemajuan teknologi tersebut serta menjadi
pemegang posisi ketiga tren penggunaan AI. Dalam sebuah survei studi penelitian
Global Education Monitor-Indonesia yang dilakukan oleh Marcomm Ipsos pada tahun
2024 tentang pendidikan di Indonesia mengungkapkan bahwa 40% sekolah berjuang
dengan hambatan teknologi, 37% dibatasi oleh infrastruktur yang tidak memadai,
dan 18% terbelenggu oleh kurikulum yang usang (Marcomm
Ipsos, 2024). Hal ini menunjukan bahwasanya di
dalam sektor pendidikan Indonesia kesetaraan para pelajar di sekolah untuk bisa
menggunakan teknologi masih banyak yang terhambat sehingga mereka harus lebih
keras berjuang untuk dapat keluar dari hambatan tersebut akibat fasilitas
infrastruktur yang tidak memadai dan kurikulum pendidikan usang yang tidak sesuai
dengan perubahan yang terjadi pada era revousi ini.
Di
atas itu semua, berita baiknya bahwasanya pada tahun 2024 warga negara
Indonesia memperlihatkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dibanding dengan
Australia yang hanya 57%. Lebih dari setengah warga Indonesia (56%) merasa
pendidikan saat ini lebih baik daripada masa sekolah mereka, sementara 25%
tidak setuju. Keyakinan ini lebih kuat di kalangan Milenial dan Gen Z, berbeda
dengan Baby Boomer dan Gen X. Selain itu, 67% warga Indonesia percaya bahwa
pendidikan berperan penting dalam mengurangi kesenjangan sosial (Marcomm
Ipsos, 2024). Melihat hal ini dimana tingkat
kepuasan pendidikan lebih tinggi dibandingkan negara Australia membuat
Indonesia memiliki kesempatan tinggi dalam memperoleh kemajuan dalam sektor
pendidikan dengan menghubungkan teknologi artificial intelligence dan
pendidikan untuk para murid. Sebab pada tahun ini pendidikan mengalami
transformasi dengan cepat sebagai dampak kemajuan teknologi artificial
intelligence.
Kemajuan
AI kini telah mengubah wajah pendidikan menjadi sebuah bagian baru yang harus
kita manfaatkan. Dengan pembelajaran mesin di jantungnya, memungkinkan sistem
untuk belajar dari data dan mengenali pola. Model bahasa seperti LlaMa dan
StableLM telah membawa revolusi dalam aksesibilitas dan keandalan, sementara
platform pembelajaran adaptif menawarkan pengalaman yang disesuaikan untuk
setiap pelajar. Tahun ini telah menjadi sebuah titik krusial dalam integrasi AI
ke dalam kehidupan sehari-hari, dengan munculnya tren seperti AI multimodal,
model bahasa yang lebih efisien, dan agen virtual yang lebih canggih yang
mendefinisikan masa depan. Teknologi pengenalan suara dan analisis data besar
telah meningkatkan interaksi dan efektivitas pengajaran, sementara chatbot dan
asisten virtual mendukung pembelajaran dan penilaian otomatis. Meskipun ada
tantangan seperti kekurangan GPU dan biaya infrastruktur cloud, pasar AI
percakapan menurut analisis statistik yang dilakukan oleh Appinventiv diperkirakan
akan mencapai $1,25 miliar pada 2025, didorong oleh inovasi seperti AI
multimodal dan generatif (Srivastava,
2024).
AI tidak hanya memperkaya interaksi manusia-mesin tetapi juga menetapkan arah
baru untuk inovasi dan kreativitas, mengubah cara kita membuat konten dan
membuka jalan bagi metode pengajaran yang lebih efisien dan pengalaman belajar
yang diperkaya atas bantuan AI.
Di
beberapa negara diseluruh bagian dunia, kemajuan AI membuat banyak negara
mempersiapkan pendidikan mereka dan melalukan berbagai macam proses pemeriksaan
dan perbaikan pada sebuah program pendidikan mereka untuk menciptakan sebuah
era baru dalam sektor pendidikan. Misalnya, di Korea Selatan, Kementerian
Pendidikan mereka berinisiatif untuk menghadirkan buku teks digital yang
ditenagai oleh AI berjanji untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih
personal dan bertujuan untuk meratakan peluang pendidikan. Di Uni Emirat Arab,
mereka berinvestasi besar pada proyek-proyek AI yang bertujuan untuk
menyesuaikan materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan setiap pelajar diharapkan
bisa meningkatkan hasil belajar dan kemampuan analitis. UNICEF, berkomitmen
untuk mengembangkan konten pendidikan yang inklusif dan mudah diakses bagi
anak-anak dengan kebutuhan khusus, memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah
hak setiap anak. Di Afrika Barat, Kabakoo Academies telah berhasil memanfaatkan
potensi AI untuk menyediakan bimbingan virtual dan pembelajaran yang
berorientasi pada pengalaman praktis, yang telah terbukti meningkatkan
kemampuan dan pendapatan pemuda. Sementara itu, di Brasil, program Letrus telah
mengadopsi AI untuk meningkatkan literasi, dengan menekankan pada pendekatan
pembelajaran yang dipersonalisasi dan tanggapan seketika, menargetkan
peningkatan kemampuan membaca dan menulis di kalangan pelajar sekolah menengah (Willige,
2024).
Dengan semua tindakan yang mereka lakukan, tindakan mereka mengarah pada satu
hal yaitu memanfaatkan penuh potensi yang bisa dihasilkan oleh artificial
intelligence (AI).
Melihat
progres program pendidikan negara-negara diatas, menjadikan artificial
intelligence (AI) sangat potensial untuk pendidikan di Indonesia sebab
memiliki banyak sekali manfaat positif untuk sektor pendidikan Indonesia, AI
menawarkan dukungan yang dipersonalisasi untuk guru, termasuk simulasi para
pelajar untuk latihan soal, umpan balik real-time, dan analisis
pasca-pembelajaran yang semuanya dirancang untuk meningkatkan praktik
pengajaran (Chen,
2023).
Dengan mengubah pendekatan pembelajaran, AI memungkinkan para pelajar untuk
mengalihkan fokus mereka pada pengembangan keterampilan tingkat tinggi,
sehingga pada akhirnya semua hal itu dapat meningkatkan standar pembelajaran di
Indonesia. AI juga memiliki potensi untuk mendukung lingkungan pembelajaran
yang bebas dari ketakutan akan dihakimi, memberikan umpan balik konstruktif
yang memungkinkan para pelajar untuk bereksperimen dengan keterampilan lunak
tanpa rasa takut akan penilaian dan membangun pemikiran kritis para pelajar.
Selain itu, AI memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan
penilaian dengan memfasilitasi diskusi kelas yang lebih interaktif dan
menyediakan personalisasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan
individu setiap pelajar, dan menjadi pembuka jalan bagi pendidikan yang lebih
responsif dan inklusif.
Disisi
lainnya, meskipun AI memiliki potensi luar biasa dalam sektor pendidikan, hal
tesebut juga tak terlepas dari rasa cemas ancaman bahaya AI yang kian
menghantui. Salah satunya berdampak pada krisis motivasi dalam belajar
dikalangan pelajar, dimana yang diungkapkan oleh seorang pelajar yang khawatir
akan dampak ChatGPT terhadap prospek pekerjaannya, menandakan krisis motivasi
eksistensial yang lebih luas di mana siswa merasa tidak yakin tentang nilai
keterampilan yang telah mereka pelajari (Chen,
2023).
Kemudian meskipun AI mampu memproses informasi dengan kecepatan dan akurasi
yang tinggi, AI memiliki keterbatasan dalam pemahaman, tidak mampu menggantikan
aspek sosial dan emosional yang penting dalam pendidikan, seperti interaksi
manusia, empati, dan kreativitas. Selain itu, ada risiko terhadap integritas
akademis, di mana AI dapat digunakan untuk menghasilkan karya atau jawaban yang
tidak asli, membuka peluang untuk penipuan akademis dan plagiarisme, yang dapat
merusak fondasi pendidikan yang adil dan bermakna.
Merespon
adanya sebuah perubahan tersebut, Indonesia haruslah gencar berbicara dan
memulai pendidikan AI di seluruh tingkat pendidikan baik SMP, SMA, serta
khususnya ditingkat Sekolah Tinggi. Kemudian dalam merancang pendidikan yang
didukung oleh AI, Negara kita penting untuk memperhatikan serta memprioritaskan
kesetaraan antar pelajar, memastikan bahwa tidak ada pelajar yang tertinggal
karena kesenjangan gender, status sekolah, atau hambatan bahasa dan wilayah
pedesaan. AI harus menjadi alat yang mendukung pengetahuan pendidikan manusia,
dan bukan menggantikannya ataupun tertelan olehnya, dengan menyediakan fasilitas-fasilitas
alat bantu yang mendukung untuk mengotomatiskan tugas administratif dan
memperkaya pengajaran. Dengan demikian, mengajarkan pelajar tentang AI menjadi
sama pentingnya dengan menggunakan AI dalam pembelajaran, karena ini membekali para
pelajar dengan keterampilan yang relevan untuk masa depan dan pemahaman tentang
dampak etika dan sosial dari AI. Sehingga pada akhirnya, Indonesia dapat memastikan segala akses yang adil terhadap peluang pembelajaran AI. Karena hal tersebut
merupakan kunci untuk mencegah keterbelakangan teknologi yang terjadi di Indonesia
dan memajukan bangsa kita lewat pelajar yang berkualitas emas dan memiliki
keterampilan yang tinggi.
REFERENSI
Chen, C. (2023). AI Will Transform Teaching and
Learning. Let’s Get it Right. Hai.Stanford.Edu.
https://hai.stanford.edu/news/ai-will-transform-teaching-and-learning-lets-get-it-right#:~:text=First%2C
a look at AI’s potential%3A 1 1.,... 4 4. Improving learning and assessment
quality
Copeland, B. J. (2024). history
of artificial intelligence (AI). Encyclopedia Britannica.
https://www.britannica.com/science/history-of-artificial-intelligence
Marcomm Ipsos. (2024). Global
Education Monitor - Indonesia. Ipsos.Com.
https://www.ipsos.com/en-id/global-education-monitor-indonesia-2023
Muhamad, N. (2024). Indonesia,
Penyumbang Kunjungan Aplikasi AI Terbanyak ke-3 di Dunia. Databoks .
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/31/indonesia-penyumbang-kunjungan-aplikasi-ai-terbanyak-ke-3-di-dunia
Srivastava, S. (2024). Top AI
Trends in 2024: Transforming Businesses Across Industries. Appinventiv.
https://appinventiv.com/blog/ai-trends/
Tsani, M. K. (2024). Bagaimana
AI Mengubah Cara Kita Belajar dan Mengajar. Kompasiana.Org.
https://www.kompasiana.com/mizankh/6666bf7fed6415691a05ab42/bagaimana-ai-mengubah-cara-kita-belajar-dan-mengajar
Willige, A. (2024). From
virtual tutors to accessible textbooks: 5 ways AI is transforming education.
Weforum.Org.
https://www.weforum.org/agenda/2024/05/ways-ai-can-benefit-education/
Penulis:
Muhammad Fadhil Badawi, 2O2214500072 - R4A
Universitas Indraprasta PGRI

